Jakarta (26/11) — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia sukses menyelenggarakan Webinar Nasional Hari Guru Nasional (HGN) 2025 dengan tema ‘Guru SIT Berjiwa Pemimpin: Menggerakkan Kolaborasi & Inovasi Menuju Indonesia Emas’.
Acara yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom dan YouTube ini mencatat 1.000 peserta di Zoom dan 520 peserta melalui YouTube, menunjukkan antusiasme besar para guru SIT dari seluruh Indonesia.
Webinar menghadirkan narasumber utama, Ketua JSIT Indonesia Ahmad Fikri, yang menyampaikan materi utama terkait kepemimpinan guru SIT dalam menggerakkan kolaborasi dan inovasi pendidikan.
Penguatan Kepemimpinan Guru: HOTS, HEART, dan ACTION
Dalam paparannya, Ketua Umum JSIT Indonesia menekankan bahwa guru SIT harus mampu menyatukan pemikiran, hati, dan aksi nyata sebagai fondasi kepemimpinan transformasional.
“Guru bukan sekadar penyampai pengetahuan, tetapi penggerak perubahan, penguat karakter, dan penjaga nilai spiritualitas di sekolah.Beliau menegaskan bahwa menjadi guru adalah jalan surga berbasis pendidikan, yang memerlukan komitmen, keteguhan hati, dan kemampuan mengelola dinamika zaman”, ungkapnya.
Membaca Tantangan Generasi & Tuntutan Pendidikan Islam
Narasumber juga mengajak peserta melihat kembali kondisi remaja saat ini yang tengah berhadapan dengan kecanduan alkohol, permasalahan kesehatan mental, kekerasan dan bullying, cyberbullying dan perilaku seksual berisiko.
“Situasi ini menuntut guru SIT untuk memperkuat mandat karakter dan spiritual, sekaligus menyiapkan murid dengan kompetensi global tanpa kehilangan jati diri. Guru SIT harus mampu mengatasi dikotomi antara tuntutan prestasi dan regenerasi, sehingga proses pendidikan tetap menyeluruh dan seimbang,” jelasnya.
Kolaborasi, menurut Ketua Umum JSIT, hanya dapat tumbuh jika didasari oleh Goal setting yang jelas, sukses bersama bukan individu, Curah gagasan (brainstorming) yang kreatif, Trust sebagai pondasi kerja tim, Planning yang relevan dengan visi, dan Business, yakni pembagian peran sesuai kompetensi.
“Kerangka inovasi Dr. Sebastian yang mencakup empat kuadran: Optimize, Improve, Create, dan Reinvent — sebagai pijakan SIT dalam membangun inovasi organisasi menuju Indonesia Emas. Berjamaah sebagai Kekuatan Utama,” tegasnya.
Menguatkan nilai-nilai ukhuwah, Ketua Umum JSIT menegaskan bahwa kerja berjamaah adalah perintah Allah dan tulang punggung dakwah pendidikan SIT.
“Dengan landasan tafahum, ta’aruf, dan takaful, guru SIT diharapkan saling memahami, menguatkan, dan menopang peran satu sama lain,” terang Fikri.
Ia juga merujuk QS. Al-Hujurat dan QS. Yusuf:108 untuk menegaskan bahwa dakwah pendidikan harus dilakukan dengan ilmu, konsep yang kuat, dan perencanaan yang matang.
“Kesiapan Sekolah dan Guru Menghadapi Era Indonesia Emas. Pada level satuan pendidikan, Kepala Sekolah dan guru harus menjadi penggerak yang mampu melahirkan lulusan berkarakter holistik, memahami Manhaj SIT dalam Standar Mutu 5.0, serta mengintegrasikan empat pilar pendidikan UNESCO secara utuh,” pungkasnya.
Pendidikan SIT, lanjut Fikri, bukan sekadar transfer of knowledge, tetapi transformasi karakter sebagaimana model pendidikan ilahiah: tilawah, tazkiyah, ta’lim, dan ta’ammul.
