SMPI ABBS Lebak Gelar Pentas Seni untuk Realisasikan Karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)

Lebak (27/04) — Sekolah Menengah Pertama Islam Al-Bashri Boarding School (SMPI ABBS) sukses menggelar Pentas Seni dalam rangka gelar karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di Kampung Ciseell, Desa Panggarangan, Kecamatan Panggarangan, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Acara yang dibuka langsung oleh Kepala Satuan Pendidikan SMP Islam Al-Bashri Boarding School, Neneng Atikah, bertujuan untuk merealisasikan gelar karya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema ‘Satukan Langkah dalam Keberagaman Budaya, Wujudkan Generasi Robbani yang Cinta Negeri’.

Dalam sambutannya, Neneng menyampaikan pentingnya tema tersebut untuk bisa diimplementasikan sesuai dengan upaya pembentukan karakter santri Al-Bashri dengan tujuan agar para santri memiliki karakter : 1. Beriman dan bertakwa, 2. Berakhlak mulia, 3. Mandiri, 4. Gotong-royong. 5. Bernalar kritis, 6. Kreatif, 7. Berkebinekaan global.

“SMP Islam Al-Bashri Boarding School sebagai sekolah berasrama menaungi keberagaman budaya santri dari berbagai daerah. Kami meyakini bahwa persatuan dalam perbedaan adalah sebuah kekuatan,” tegasnya.

Senada dengan Ustadzah Neneng, Ketua Dewan Pembina Yayasan Generasi Madani Banten, Ade Salamun, mengajak para santri untuk lebih kreatif dan menghargai perbedaan budaya antar daerah, hak cipta suatu karya seni dan jasa para tokoh sejarah negeri ini.

“Potensi keberagaman di Indonesia yang sangat besar ini, harus terus dipelihara oleh kita semua sebagai generasi penerus dan dalam pendidikan di SMP Islam Al-Bashri Boarding School kita kenalkan pula seni dan budaya. Dengan sentuhan seni, proses pendidikan dan transfer knowledge dari guru kepada para murid akan lebih mudah diterima, menarik dan tentu semakin kreatif. Karena dalam seni terdapat kelembutan dan dengan kelembutan para guru dalam mendidik dan mengajar akan lebih bisa menyentuh hati para santri,” ujar Ade.

Ade menambahkan agar tujuan kegiatan pentas seni ini semakin berarti dan bermakna bagi santri, perlu kiranya dikenalkan lebih mendalam seluruh latar belakang tari-tarian daerah yang ditampilkan, siapa pencipta lagu daerah, musik, adat istiadat, dll.

“Dengan terselenggaranya kegiatan pentas seni ini, diharapkan para orang tua santri bisa mengapresiasi hasil karya anak-anak mereka, bermanfaat sebagai bekal untuk masa depan mereka dan di akhir tahun pelajaran 2024/2025 menjadi nilai rapor untuk kegiatan P5,” ungkap Ade.

Pentas seni ini diikuti oleh 82 orang santri, dan dihadiri sekitar 200 orang undangan yang terdiri dari orang tua/wali santri, dewan ustadz-ustadzah, Hilman Rohmansyah, S.Si (Ketua Yayasan Generasi Madani Banten), para pengurus Yayasan Generasi Madani Banten, Komite SMP Islam Al-Bashri Boarding School, Sriyanti, S.Pd.I (Kepala Satuan Pendidikan TKIT Generasi Banten), Madri, S.Pd (Kepala Satuan Pendidikan SDIT Peradaban Mulia), Ayi Sobana, S.Pd., M.Pd (Pendamping Satuan Pendidikan SMP Islam Al-Bashri Boarding School, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan tingkat SMP Kabupaten Lebak, wilayah kecamatan Panggarangan), Ruyanta, S.Pd., M.Pd (Kepala MKKS SR. 07) dan undangan lainnya.

Selama kurang lebih tiga setengah jam acara ini berlangsung, alhamdulillah acara dapat berjalan dengan lancar dari awal hingga akhir acara dengan menampilkan karya santri yang cukup padat dan bervariasi yaitu berupa : aksi Tim Paskibra Putra, solo vokal, hadroh, pantomim, hadroh, tarian daerah (Jawa, Sunda, Banten, Batak, Betawi dan Kalimantan), musikalisasi puisi, drama kabaret dan Taekwondo.

Adapun di closing acara, ditampilkan pula nasyid ‘Untukmu Palestina’ sebagai bentuk keprihatinan dan kepedulian kita terhadap saudara muslim di Palestina yang tengah ditindas penjajah Zionis Israel dalam bentuk boikot produk pro Zionis Israel.

Bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan, yang merupakan inti dari sila kedua Pancasila.

Dan dalam Pembukaan UUD 1945 secara eksplisit menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh karena itu penjajahan tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*