JSIT Indonesia Adakan FGD Inovatif: Menggali Potensi Pembelajaran Mendalam dan Filosofi Terpadu Kekhasan SIT

Jakarta (18/10) — Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Indonesia kembali menunjukkan komitmennya terhadap penguatan mutu pendidikan berbasis nilai Islam melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bertema ‘Pembelajaran Mendalam dan Filosofi TERPADU Kekhasan Sekolah Islam Terpadu’.

Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini berlangsung pada Sabtu pagi (18/10) dan diikuti oleh 28 peserta yang terdiri dari jajaran Majelis Tinggi, Dewan Pakar, Ketua umum, pengurus pusat, serta perwakilan bidang-bidang strategis JSIT Indonesia.

FGD ini merupakan bagian dari upaya strategis JSIT Indonesia dalam merumuskan arah dan filosofi pembelajaran yang sejalan dengan kebijakan nasional, khususnya dalam mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam (PM) yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP).

Menyemai Pendidikan yang Memuliakan
Acara dibuka secara khidmat dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an dari Surah Luqman ayat 12–19, doa bersama, serta kumandang lagu Indonesia Raya dan Mars JSIT Indonesia. Suasana nasionalisme dan spiritualitas berpadu dalam semangat kolaborasi pendidikan.

Ketua JSIT Indonesia, Ahmad Fikri, dalam keynote speech-nya menegaskan bahwa program Standar Mutu dan Layanan SEMAI merupakan agenda prioritas JSIT untuk memperkuat kontribusi pendidikan Islam di Indonesia. Ia menekankan pentingnya transformasi pendidikan yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga membentuk karakter dan jiwa yang suci.

“Misi pendidikan sejati adalah menyucikan jiwa. Dari sekadar transfer of knowledge menuju transformation of character—menumbuhkan peserta didik yang teguh ilmunya, kokoh karakternya, dan nyata akhlaknya,” ujar Ahmad Fikri.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Model Pembelajaran TERPADU merupakan ciri khas JSIT yang berakar pada integrasi nilai Islam dalam seluruh proses pembelajaran.

“Filosifi Terpadu ini tidak hanya menyatukan antar mata pelajaran dengan kehidupan nyata, tetapi juga menghubungkan sekolah dengan keluarga dan masyarakat. Melalui SEMAI, JSIT berharap dapat menyemai, menumbuhkan, dan menghasilkan buah pendidikan yang bermanfaat bagi bangsa dan dunia pendidikan pada umumnya,” ujarnya.

Kolaborasi dengan Kemendikdasmen: Pembelajaran Mendalam yang Memuliakan
Narasumber pertama, Laksmi Dewi, Kepala Pusat Kurikulum dan Pembelajaran BSKAP Kemendikdasmen, memaparkan arah kebijakan Pembelajaran Mendalam (PM) dan Learning Progression sebagai pendekatan baru yang berorientasi pada penguatan karakter dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills).

Menurutnya, hasil survei PISA 2022 menunjukkan bahwa proses berpikir siswa Indonesia masih perlu diperkuat. Karena itu, PM hadir dengan konsep ‘Memuliakan’ — berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

Ia menjelaskan empat komponen utama pembelajaran mendalam: praktik pedagogis, lingkungan belajar, kemitraan pembelajaran, dan pemanfaatan teknologi digital. Kementerian juga tengah menyusun panduan implementasi PM lintas jenjang, termasuk indikator keberhasilan dan rencana peluncuran Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan Kecerdasan Artifisial (KKA) sebagai percontohan nasional.

“Sekolah diberi kebebasan mengembangkan pembelajaran sesuai kekhasan dan potensinya, selama tetap memenuhi standar minimal. Keterlibatan komunitas orang tua juga sangat penting dalam mendesain proses belajar anak-anak mereka,” tegas Dr. Laksmi.

Model TERPADU: Integrasi Nilai, Ilmu, dan Kehidupan
Pemateri kedua, Ketua Majelis Tinggi JSIT Indonesia, Sukro Muhab menegaskan bahwa konsep TERPADU bukan hanya metode, melainkan filosofi pendidikan yang berlandaskan nilai Islam dan kebangsaan. Ia menjelaskan empat landasan utama pendekatan TERPADU: ideologis, konstitusional, konseptual, dan filosofis.

Dari sisi ideologis, Sukro menegaskan bahwa pendidikan Islam harus berakar pada wahyu pertama, Iqra’, sebagai simbol pertumbuhan dan kesadaran intelektual. QS. Luqman ayat 12–19 menjadi inspirasi orientasi pendidikan JSIT, yakni membangun generasi Ulul Albab yang seimbang antara zikir dan pikir.

Ia juga menjelaskan bahwa sejak 2016, JSIT telah mengembangkan TERPADU yang kini selaras dengan arah Deep Learning yang diperkenalkan Kemdikbud. Integrasi antara spiritualitas, ilmu, dan kemanusiaan ini akan dikembangkan menjadi “Deep Learning TERPADU” dengan prinsip Spiritual, Integratif, Transformatif, dan Nasionalis.

“Prinsip pembelajaran TERPADU adalah menyatukan ilmu, iman, dan amal. Pendidikan Islam Terpadu harus menjadi lokomotif pembelajaran holistik yang melahirkan generasi berkarakter, kreatif, dan berdaya saing global,” ungkap Prof. Sukro.

Sinergi untuk Masa Depan Pendidikan
FGD yang dimoderatori oleh Dr. Endah Kusumawati, Ketua bidang 1 Pendidikan Dasar dan Menengah, berlangsung interaktif dan produktif. Para peserta dari majelis tinggi, dewan pakar dan berbagai departemen serta badan JSIT Indonesia memberikan tanggapan, masukan dan pertanyaan terkait praktik pembelajaran TERPADU, penguatan SDM guru, kemitraan pembelajaran, dan pengembangan penilaian autentik holistik.

Diskusi menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis: Penyelarasan Pembelajaran Mendalam dengan filosofi pembelajaran TERPADU khas SIT. Penguatan peran guru sebagai fasilitator pembelajaran berkesadaran dan bermakna.


Pengembangan kurikulum integratif yang memadukan nilai spiritual, akademik, dan sosial.
Penyiapan kolaborasi konkret antara JSIT Indonesia dan BSKAP-Puskurjar dalam merancang Sekolah Model Pembelajaran Mendalam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*